My Galaxy

Hati- Hati Dengan Bahasa Persuasif

Hello, readers! Pernahkah Anda membeli sesuatu yang sebenarnya tidak Anda butuhkan? Pernahkah Anda tidak mempercayai sesuatu, tetapi tiba-tiba percaya karena dibujuk seseorang atau terpengaruh oleh sesuatu sehingga mempercayainya? Atau, pernahkah Anda melakukan sesuatu walaupun pada awalnya tidak ingin melakukannya? Itu artinya Anda telah menjadi target sebuah senjata yang dinamakan “bahasa persuasif”! Senjata ini mampu membuat target terhipnotis untuk melakukan apa saja yang dikatakan oleh pengguna senjata ini! Terdengar keren bukan? Yang lebih menarik lagi adalah bahwa ternyata siapa saja dapat menggunakan senjata ini! Jadi, ingin tahu caranya?

Bahasa Persuasif: Senjata Rahasia yang Terbukti Sukses

Sebenarnya, apa artinya “bahasa persuasif”? Menurut riset dari ahli psikologis Bruce Berger, bahasa persuasif adalah bahasa yang bertujuan untuk mempengaruhi atau mengubah kepercayaan, perilaku, dan sikap seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Baik disadari maupun tidak disadari, bahasa persuasif sebenarnya ada dimana-mana! Coba saja sekarang nyalakan TV terdekat dan tonton acara TV apa saja selama beberapa menit. Pasti bakalan ada iklan yang muncul bukan? Nah, semua iklan (di TV, Internet, billboard, live, dll.) itu sebenarnya menggunakan bahasa persuasif. Mengertikah Anda sekarang mengapa Anda merasa ingin membeli suatu barang setelah menonton iklan?

Bukan hanya iklan yang menggunakan bahasa persuasif. Gaya bahasa ini digunakan untuk politik juga, loh! Hah? Mana mungkin? Jawabnya, mungkin saja! Tetapi, untuk posting hari ini, kita fokus ke bahasa persuasif di iklan dulu, ya.

Iklan dan Bahasa Persuasif

Masih belum percaya keampuhan senjata rahasia ini? Coba lihat grafik di bawah ini.

Grafik di atas menunjukkan berapa banyak total dana yang digunakan untuk membeli slot iklan di TV. WOW! Sekian ribu milyar dibelanjakan untuk iklan. Sungguh jumlah yang fantastis! Ada lagi yang lebih mengejutkan. Coba ingat kembali iklan yang terakhir Anda tonton. Berapa kira-kira durasi iklan tersebut? Duapuluh detik? Tigapuluh detik? Pendek sekali, bukan? Tetapi, anehnya, walaupun durasi tayangnya sangat pendek dan harga untuk menayangkannya sangat mahal, iklan tetap dibuat. Malahan lebih banyak jumlah iklan yang tayang di TV. Mengapa seperti ini? Karena iklan TERBUKTI AMPUH untuk menjual produk, jasa, ide dari pembuatnya. Lalu, apakah yang menjadi tulang punggung dari sebuah iklan? Jawabnya: bahasa persuasif.

Rahasia “Bahasa Persuasif”

Nah, sekarang tiba waktunya untuk membongkar rahasia cara kerja senjata ampuh ini. Rahasianya adalah dengan menggunakan retorika atau kepandaian berpidato dan berbicara. Menurut Aristotle, retorika adalah seni mengidentifikasi dan memilih cara terbaik dari berbagai pilihan yang ada, dalam situasi yang diberikan, untuk membujuk penonton secara etis.

Untuk menggunakan retorika agar sukses membujuk orang melakukan apa yang Anda inginkan, anda harus menguasai teknik logos (logika), pathos (emosi), dan ethos (kredibilitas). Logos mencoba untuk merangkul logika dengan menggunakan fakta, data, dan bukti. Pathos mencoba untuk membangun emosi dan atmosfir tertentu dalam diri penonton dan menggunakan emosi tersebut untuk menarik calon pembeli. Ethos bermain dengan kredibilitas dimana pembuat iklan ingin membuat penonton merasa bahwa produk mereka berkualitas bagus dan dapat diandalkan, dan oleh karena itu Anda harus membeli produk mereka.

Analisa Iklan: Pepsodent

vlcsnap-2015-03-05-08h38m53s201
https://www.youtube.com/watch?v=AwbD969OYS0

Iklan pasta gigi Pepsodent Expert Protection tadi menggunakan bahasa sehari hari. Iklan ini menggambarkan seorang dokter gigi yang ingin menunjukkan bahwa bahkan di pagi hari saat kita barusan menyikat gigi pun, gigi kita tidak terlindungi dari bakteri. Sang dokter menanyai seorang eksekutif muda, “Yakin gigi Anda terlindungi?” Dengan peralatan detektor bakterinya yang canggih, dia memindai gigi si eksekutif muda. Hasilnya, sempurna! Tak terlihat banyak bakteri seperti yang diharapkannya. Tidak yakin dengan hasil yang diperolehnya, dokter gigi tersebut memindai ulang. Dengan tampang bingung sang dokter bertanya, “Bagaimana bisa?”. Dengan enteng si eksekutif muda menjawab, “Saya menyikat gigi dengan itu (menunjuk papan iklan Pepsodent Expert Protection)”. Selanjutnya narrator melanjutkan iklan dengan mengatakan “Pepsodent Expert Protection, memberikan perlindungan hingga 24 jam terhadap bakteri. Pepsodent Expert Protection, merek pasta gigi nomor satu, dipakai dan dipercaya dokter gigi di Indonesia”.

pepsoden1

Di mana bahasa persuasifnya? Mari kita analisa bersama-sama. Pertama, iklan ini menggunakan teknik ethos dimana produsen mengklaim bahwa produk mereka adalah produk nomor 1 dan dipercaya oleh semua dokter gigi di Indonesia. Dengan menggunakan ini, penonton dapat lebih tertarik untuk membeli produk pasta gigi ini karena telah direkomendasikan oleh dokter gigi yang notabene adalah ahli yang dapat diandalkan mengenai masalah gigi. Dan yang pasti, Anda tidak akan meragukan kata-kata dokter, bukan?

pepsoden2

Mereka juga menggunakan visualisasi yang bagus untuk merepresentasikan produk mereka. Dengan menggunakan teknologi moderen, mereka dapat memperlihatkan tingkat kebersihan gigi seseorang dan kotoran yang ada di gigi. Melalui visualisasi ini, penonton disadarkan akan kebutuhan kebersihan gigi mereka dan langsung membayangkan seberapa kotornya gigi mereka sendiri. Ini seperti wake-up call bagi penonton supaya mereka peduli tentang kebersihan gigi mereka. Lalu, jika gigi mereka kotor, apa yang dapat dilakukan untuk membereskannya? Solusi yang ditawarkan adalah Pepsodent Expert Protection! Apakah teknologi pemindai bakteri ini benar-benar ada atau tidak bukan masalah. Yang jelas, visualisasi ini sangat efektif sebagai pembangun kesadaran.

Coba tonton lagi iklannya! Kali ini, perhatikan pemilihan warna yang digunakan. Iklannya serba putih, terang, bersih dan simple, bukan? Iklan ini mencoba menggunakan color pallete atau pemilihan warna yang terang dan terlihat bersih supaya produk mereka dikonotasikan dan diingat sebagai produk yang cerah dan bersih, cocok untuk fungsi produk mereka.

vlcsnap-2015-03-05-08h43m29s123

Sadar atau tidak, tetapi sebenarnya tokoh-tokoh yang muncul dalam iklan juga penting. Tokoh pertama yang muncul dalam iklan ini sangat rapi, menggunakan jas putih ditambah dengan kacamata. Mengapa mereka memilih untuk memunculkan tokoh ini? Karena secara otomatis kita akan mengstereotip orang itu sebagai orang yang pandai (contoh: dokter, professor dll.). Orang kedua yang muncul dalam iklan ini sangat rapi, menggunakan jas yang menarik, dan sedang membawa kopi yang kelihatannya seperti kopi Starbucks. Orang ini adalah eksekutif muda atau orang yang berkelas menengah ke atas. Ini digunakkan karena Pepsodent dibidik untuk digunakan orang berkelas menengah ke atas (karena pepsodent cukup mahal). Sekarang, sadar nggak aktor yang memainkannya juga bukan orang Indonesia walaupun ini iklan produk Indonesia? Ini digunakan karena orang Indonesia memiliki kecenderungan untuk lebih percaya orang luar negeri karena kepercayaan bahwa mereka lebih pintar dan lebih maju dibanding Indonesia.

Yang saya jelaskan diatas hanya beberapa dari cara bahasa persuasif digunakan dalam iklan. Sekarang tambah peka saat nonton iklan ya.


Sumber:

http://www.readwritethink.org/files/resources/lesson_images/lesson1166/PersuasiveTechniques.pdf

https://tweakyourslides.wordpress.com/tag/logos/

Belanja Iklan di Indonesia


Word Count: 995

Check out my instagram page! http://instagram.com/paynedeath

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *